Pantai Indah Kemangi dan Konon Katanya


NYIMAK ~nyinyir maksimal

Bukan lambe kok, cuma ‘konon katanya’ saja


Dulu waktu jadi siswa baru di SMK, suka banget nyimak pas teman-teman memperkenalkan diri. Lucu dan masih malu-malu apalagi kalau ada yang bilang ‘Weleri neni-neni’, haha masih aneh gitu. Padahal masih satu kabupaten tapi aksennya sudah beda -Neni = meni = banget. Di SMKku memang didominasi oleh siswa yang rumahnya daerah barat si, kaya Kendal, Cepiring, Gemuh, dan Weleri. Sedangkan aku anak Kaliwungu daerah timur, jadi taunya ya daerah sini-sini saja.

Ada satu yang menarik dan bikin aku penasaran banget sama salah satu temanku yang rumahnya di Daerah Cepiring. Di Desa Jungsemi tepatnya. Waktu dia memperkenalkan diri, guru-guru heboh banget. Ya bukan heboh si, tapi kaya menarik perhatianku. Soalnya hampir setiap guru yang masuk tanya ke dia dengan ekspresi yang kaya gitu. Bukan horor kok, bukan! hihihi… -ekspresi terkejut maksudnya. You knowlah, buat mencairkan suasana kelas saja biar tidak sunyi.

Begini kira-kira singkatnya reka adegan waktu itu.
“Perkenalkan nama saya Naaila dari SMPN 2 Cepiring, saya tinggal di Desa Jungsemi”, intro temanku waktu maju satu-satu memperkenalkan diri.
“Loh Jungsemi kan kuburan itu kan? Kuburan Kemangi? Kok wani banget nok?” (kok berani sekali?), tanya guru PAI kala mengisi kegiatan MPLS.
“Bukan pak, Jungsemi masih jauh kok dari Kuburan Kemangi”, jawabnya.
“Hahaha iya… Teman-temanmu kasih tau, nek dolan ke sana harus hati-hati” kata guru PAIku lagi.


Setelah mendengar temenku intro dan interaksinya dengan guruku kaya gitu, jadi kepo nih. Dalam hati, “hah? asing banget, emang ada apa ya?”. Mau tanya teman-teman yang lain masih canggung gitu, mau sok akrab juga mikir kalo nanti temanku malah jadi ilfeel, haha demi mempertahankan pamor siswa baru. Akhirnya ya menyimpan ke-kepo-an ini sampai rumah.


Nah, pas di rumah, setelah maghrib tepatnya. Biasa keluarga lagi kumpul di depan televisi buat cerita random, sekadar menghilangkan penat seharian gitu. Langsung saja aku cerita.

Temenku ada yang rumahe Jungsemi ig, emang Jungsemi ada apa sih Pak? Kok kayane medeni gitu?”, tanyaku ke Bapak dengan aksen medhok khas Orang Kendal banget, haha.
“Ohhh Jungsemi… Kui desa sing paling cedhak karo Kuburan Kemangi. Emang medeni, tapi dulu sih, sekarang mungkin wis enggak medeni lagi”, jawab bapakku.
Karena baru dengar ada kuburan namanya Kuburan Kemangi aku jadi speechless. “Hah? Ada tho Kuburan Kemangi? Medenine gimana?”.

Akhirnya meluncurlah cerita ‘konon katanya tentang Kuburan Kemangi’. Ada banyak versi cerita si, tapi aku cerita dari versi yang bapakku dan temanku tau. Yang versi bapakku seperti ini ceritanya.

Konon katanya dulu ada tukang masak yang diundang ke hajatan pernikahan anaknya Pak Lurah di Desa Kemangi. Jadi dia di jemput sama orang dan disuruh masak di alamat ini. Tukang masak merasa sebentar banget pas masak. Padahal acaranya lumayan besar, harusnya kan masaknya lama karena banyak.

Pas dia masak di sana, dia heran dan merasa aneh, “mosok podho ndingkluk kabeh wong sing rewang? kok rak ono sing aruh-aruh liyane mbarang?”, (semuanya kok pada nunduk? Kok tidak ada yang ngomong satu sama lain?). Tapi firasat aneh itu diabaikan tukang masak dan dia fokus memasak di dalam dapur itu. Beberapa setelahnya tukang masak lapar dan ingin sekali makan, tetapi diurungkannya.

You know what? Kalo sampai makan makanan itu, si tukang masak tidak bisa balik lagi ke rumahnya. Secara kan dia tidak sadar kalau sebenarnya masaknya di kuburan dan dia juga tidak masak makanan yang semestinya dimakan manusia.

Karena Allah masih sayang sama si tukang masak itu, akhirnya dia bisa keluar dari daerah yang tidak semestinya di tempati manusia. Betapa terkejutnya kalau selama ini dia sudah di kuburan selama berminggu-minggu dan baru sadar kalau dia masak di Kuburan Kemangi.

Jadi ada yang bilang, pas sudah selesai hajatannya dia mendapat bayaran dari Pak Lurah dan di suruh pulang. Waktu perjalanan pulang, karena tidak tau jalan untuk ke jalan raya dia tanya petani daerah sana.
“Lha awakmu kui bar seko ndi? Kok iso ning kene?”, (lha kamu itu dari mana? Kok bisa di sini?) tanya petani.
“Aku bar masak ning nggene Pak Lurah kono, anake mantenan”, (aku selesai masak di hajatan anaknya Pak Lurah, anaknya jadi pengantin) jawab tukang masak dan membuat petani bingung.
“Pasange ning kene rak ono kampung maneh, Pak Lurah yo orak ndue gawe”, (sepertinya di sini tidak ada kampung lagi, Pak Lurah juga tidak punya gawe/hajat) jelas petani itu.

Si tukang masak terkejut dan mencoba menjelaskan kalau dia diundang dan disuruh masak di hajatan Pak Lurah. Dia juga membuktikan dengan uang yang diberi Pak Lurah kepadanya. Untungnya, dia bisa kembali ke rumahnya dan tanya ke Kyai perihal uang yang didapat.
“Wes rapopo, kui duwit asli, kui wes rezekimu. Ugo iso balek kanthi slamet”, (Sudah tidak apa-apa, itu uang asli, itu sudah menjadi rezekimu. Juga bisa pulang dengan selamat) kata Pak Kyai.

Akhirnya dia lega dan uang yang dia dapat setengahnya buat syukuran. Begitu cerita versi bapakku, kalo versi temanku kaya begini.

Dulu ada truk yang mengangkut motor banyak banget, katanya yang pesan orang Kemangi. Entah karena sopir yang mengantar tidak tau atau memang orang luar Kendal, dia tetap saja mengirim motor-motor yang dipesan oleh entah siapa itu. Terus tiba-tiba saja, pas sudah sampai di lokasi yang harusnya tempat orang yang memesan, eh tidak ketemu apa-apa. Malah dia ada di sebuah kebun. Akhirnya dai tanya-tanya orang sekitar dan pas mau balik mengambil truck itu, motornya itu hilang semua. Duh mistis banget! Horor ya?

Kalo dipikir nih ya, kan jalan ke kemangi itu sempit kan, kok bisa ya truck besar bisa masuk di desa itu?

Nah, dari cerita itu, aku dan teman-teman yang lain jadi takut gitu kalau mau ke sana. Katanya bukannya sampai di rumah temanku malah tersesat ke Kuburan Kemangi. Haha gokil banget, jadi antipati sama daerah sana dan baru berani main pas sudah lulus dong. Padahal ya, daerah situ asri banget dan nyaman. Masih ijo seger-seger gitu. Ya kalo dipikir kan sekarang sudah zamannya pake GPS, aman lah, gampang kalau mau traveling. Eh tapi bisa saja disesatin google maps haha. Tapi tenang, kalo kita niatnya baik tidak akan kenapa-kenapa kok.

Buat teman-temanku yang masih parno dengan mistisnya Desa Kemangi, percayalah tidak semenyeramkan konon katanya. Main di pantainya juga seru banget. View ke pantai dijamin bikin kalian nyebut kalimat tasbih banyak-bayak. Ayo eksplore keindahan Daerah Kendal yuk! Banyak banget loh pantai di sini. Ke Pantai Indah Kemangi salah satunya. Tenang saja, jalan ke pantainya sudah bisa diakses dengan mobil kok.


Ke sana juga bayarnya tidak mahal. Cuma bayar tarif parkir saja. Kalau kalian naik sepeda cukup bayar Rp2000,00; naik motor bayar Rp3000,00; sedangkan mobil bayar Rp5000,00. Murahkan? Kalian bisa foto-foto sesukanya dan menikmati Pantai Indah Kemangi. Apalagi kalau kalian anak senja wah cocok banget sih ini! Bisa duduk-duduk santai melihat matahari terbenam. Oh iya, jangan lupa selalu jaga kebersihan ya!

Kalau masih belum yakin mau ke sana, kalian bisa baca do’a, surat-surat, dan sholawatan pas di perjalanan, haha. Yang paling penting juga jaga sikap. Soalnya kan lagi bertamu di daerah orang, jadi harus baik-baik dan wajib dijaga etikanya.

Ada nih mitos orang zaman dulu, tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, tapi mengajarkan kesopanan. Karena ya taulah, pemakaman itu tempat yang sakral jadi harus di hormati. Ada yang masih ingat nggak sama mitos ini? konon, kalau kita menunjuk kuburan, jari kita harus diemut dan dimasukan ke baju yang kita pakai sampai benar-benar kering lagi. Kalau tidak jari kita bisa busuk dan bisa didatangi makhluk dari alam sana. Hihihi ngeri kan mitosnya?

Segitu dulu ya nyimak kali ini, semoga bisa bermanfaat!

Happy weekend Ctrl+A!!! Kalau menurut salah satu lirik lagunya anak indie, gini nih
Bawa aku pergi bersamamu tuk melihat
Gunung tertinggi
Laut terdalam
Langit terindah
Dan berjanjilah
Kau dan aku
Kau dan aku
Takkan terpisah
~~Elderweiss - Fiersa Besari feat Vica

Komentar

  1. Aku juga pernah kesana, sebelum seramai sekarang. View nya gak kalah bagus sama pantai yang lainnya .

    BalasHapus
  2. Aku juga pernah kesana, sebelum seramai sekarang. View nya gak kalah bagus sama pantai yang lainnya .

    BalasHapus
  3. Aku baru tau cerita ini, setelah sekian lama tinggal disini :v

    BalasHapus
  4. Aku koq mbok tinggal ..😂😂😂

    BalasHapus
  5. Bangga dengan si penulis.. Ternyata ada saya di dalam cerita ini. Alhamdulillah semoga sukses selalu untuk penulis.

    BalasHapus

Posting Komentar